Blog Orang Tua yang ingin mengenalkan kepada anaknya Dasar-Dasar Agama


Asta Aiswarya Delapan Kemahakuasaan Tuhan




Asta Aiswarya berasal dari bahasa sanskerta, yakni dari kata Asta yang artinya delapan, dan kata Aiswarya yang berarti kemahakuasaan. Dengan demikian Asta Aiswarya mengandung arti delapan sifat kemahakuasaan Tuhan. Asta Aiswarya dapat digambarkan sebagai kemaha-kuasaan Tuhan sebagai Padma Asta Dala (teratai berdaun delapan). Umumnya digunakan untuk menyebutkan pada arah mata angin yang didalamnya terdapat dewa penguasa. Kedelapan kelopak padma ini melambangkan keseimbangan yang ada di alam semesta ini. Kedelapan kemahakuasaan Tuhan tersebut, meliputi: Anima, Laghima, Mahima, Prapti, Prakamya, Isitwa, Wasitwa, dan Yatrakamawasaitwa.
Penjelasan tentang sifat kemahakuasaan Tuhan, dalam kitab Wrhaspatitattwa sloka 66 terdapat keterangan tentang sifat-sifat kemahakuasaan Tuhan yang disebut Asta Sakti atau Asta Aiswarya. Adapun pembagian dari Asta Aiswarya sebagai berikut :

1.      Anima
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Anima yang berarti ”atom”. Kata Anima dalam Asta Aiswarya ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Tuhan yang susah untuk dilihat dengan mata biasa, akan tetapi dapat dirasakan keberadaannya.

2.      Laghima
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata ”Laghu” yang artinya ringan. Laghima berarti sifat-Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether dalam unsur panca mahabhuta.

3.      Mahima
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Mahima, Mahima berasal dari kata ”Maha” yang berarti Maha Besar, di sini berarti Tuhan meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi-Nya, semua ruang di alam semesta ini dipenuhi oleh-Nya.

4.      Prapti
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Prapti, Prapti berasal dari ”Prapta” yang artinya tercapai. Prapti segala tempat tercapai oleh-Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.

5.      Prakamya
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Prakamya, Prakamya berasal dari kata ”Pra Kama” berarti segala kehendak-Nya selalu terlaksana atau terjadi.

6.      Isitwa
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Isitwa. Isitwa berasal dari kata ”Isa” yang berarti raja. Isitwa berarti merajai segala-galanya, dalam segala hal paling utama.

7.      Wasitwa
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Wasitwa, berasal dari kata ”Wasa” yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.

8.      Yatrakamawasayitwa
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat-Nya.

Tri Pramana Tiga Makhluk Hidup Ciptaan Tuhan




Tri Pramana berasal dari kata tri yang berarti tiga dan pramana yang berarti kekuatan. Makhluk hidup yang diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1.      Eka Pramana
Makhluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yakni ‘Bayu’.
Makhluk ini juga disebut Sthawara (hidup tidak berpindah-pindah).
Yang tergolong Sthawara adalah sebagai berikut:
a. Trana(bangsa rumput).
b. Lata(bangsa tumbuhan menjalar).
c. Taru(bangsa semak dan pepohonan).
d. Gulma(bangsa pohon yang bagian luar pohon berkayu dan bagian dalamnya berongga atau kosong.
e. Janggama(bangsa tumbuhan yang hidupnya menempel pada tumbuhan lain).

2.      Dwi Pramana
Makhluk hidup yang memiliki dua kekuatan dalam hidupnya yakni ‘Sabda dan Bayu’.
Makhluk hidup ini juga disebut dengan Satwa atau Sato.
Makhluk yang tergolong Satwa atau Sato antara lain:
a. Swedaya adalah bangsa binatang bersel satu.
b. Andaya adalah bangsa binatang yang bertelur baik yang hidup di darat maupun dilaut.
c. Jarayudha adalah bangsa binatang menyusui baik pemakan rumput pemakan daging disebut dengan Satwa atau Sato.

3.      Tri Pramana
Makhluk hidup yang dalam hidupnya memiliki tiga kekuatan yakni ‘Sabda, Bayu, dan Idep’.
Makhluk hidup ini dinamakan manusia.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna karena memiliki unsur-unsur yang lebih
dari makhluk lainnya, yaitu sabda, bayu, dan Idep.
Manusia diklasifikasikan sebagai berikut:
a Nara Merga adalah manusia yang masih memiliki pola piker seperti manusia biasa namun salah satu bagian tubuhnya masih seperti binatang.
b Wamana adalah manusia yang postur tubuhnya lebih kecil dari manusia biasanya.
c Jadma Manusia adalah manusia yang sempurna.

Tipe manusia dibedakan berdasarkan sifat dan jenis kelaminnya:
a. Purusa adalah manusia yang bersifat dan berjenis kelamin laki-laki.
b. Pradana adalah manusia yang bersifat dan berjenis kelamin perempuan.
c. Manusia Banci adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki tetapi bersifat seperti perempuan dan begitu juga sebaliknya.

Sumber : Buku K13 SD Kelas 1


Tri Guna Tiga Sifat yang Mempengaruhi Manusia



Secara etimologi Tri Guna terdiri dari dua kata yakni Tri yang artinya tiga dan guna yang artinya sifat. Jadi tri guna berarti tiga sifat yang mempengaruhi manusia.
11.    Satwam
Sifat satwam yakni sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas dan sifat-sifat baik lainnya.
22.    Rajas
Sifat rajas yakni sifat lincah, gesit, tergesa-gesa, bimbang, iri hati, angkuh dan bernafsu.
33.    Tamas
Sifat tamas yakni sifat tamak,paling malas, kumal, rakus dan suka berbohong.

Panca Mahabhuta Lima Unsur Dasar Alam Semesta


Panca Mahabhuta adalah lima elemen dasar atau lima unsur yang membentuk bhuana agung maupun bhuana alit. Kelima unsur tersebut sebagai berikut :

1. Prthivi adalah unsur padat atau tanah.
2. Apah adalah unsur cair atau air.
3. Teja adalah unsur panas atau api.
4. Bayu adalah unsur angin atau udara.
5. Akasa adalah ruang atau ether.

Panca Nyama Brata Lima Disiplin Berbuat Baik



Panca Nyama Brata, artinya lima macam disiplin dalam memupuk kebiasaan yang baik, yang terdiri dari:
a. Akroda, sifat tidak suka marah;
b. Guru susrusa, selalu hormat, tekun melaksanakan tuntunan guru;
c. Sauca, suci lahir batin;
d. Aharalagawa, selalu mengatur jenis dan waktu makan agar tidak berlebihan; dan
e. Apramada, taat, tidak sombong mempelajari ajaran suci agama.

Panca Yama Brata Lima Pengendalian Diri


Panca Yama Brata adalah lima cara untuk mengendalikan diri, yang terdiri dari :

a. Ahimsa, tidak menyiksa atau menyakiti makhluk lain;
b. Brahmacari, tidak melakukan hubungan badan selama masa menuntut ilmu;
c. Satya, selalu menepati janji;
d. Awyawaharika, tidak melakukan usaha yang tidak berdasarkan ketulusan;
e. Asteya, tidak curang dan tidak mencuri.

Tri Murti Pencipta Pemelihara Pelebur



Tri murti merupakan tiga perwujudan Tuhan sebagai Brahma, Wisnu, dan Siwa.

1. Dewa Brahma
    Dewa Brahma sebagai dewa pencipta, menciptakan alam beserta isinya. Saktinya adalah Dewi Saraswati, memiliki senjata Gada, kendaraannya adalah Angsa.

2. Dewa Wisnu 
    Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara, memelihara alam beserta isinya. Saktinya adalah Dewi Laksmi/Dewi Sri, memiliki senjata Cakra, kendaraannya adalah Garuda.

3. Dewa Siwa
    Dewa Siwa sebagai dewa pelebur, melebur alam beserta isinya. Saktinya adalah Dewi Durga, memiliki senjata Padma, kendaraannya adalah Lembu (sapi putih).

Tri Kaya Parisudha Tiga Perbuatan yang Baik

     

Tri Kaya Parisudha berasal dari kata tri yang berarti tiga, kaya yang berarti perbuatan atau perilaku dan parisudha yang berarti amat disucikan. Jadi Tri Kaya Parisudha merupakan tiga perbuatan atau perilaku yang disucikan.

Bagian-bagian Tri Kaya Parisudha :
1. Kayika yaitu berbuat yang baik, sopan, dan benar
2. Wacika yaitu berkata yang baik, jujur, dan benar
3. Manacika yaitu berfikir yang baik, bersih, dan suci

Sapta Timira Tujuh Kegelapan dalam Diri Manusia



Sapta Timira berasal dari bahasa sansekerta dari kata Sapta yang berarti tujuh, dan kata Timira yang berarti gelap, suram, (awidya). Sapta timira berarti tujuh macam kegelapan atau sifat yang menyebabkan pikiran orang jadi gelap sehingga melakukan perilaku-perilaku negatif.

Berikut adalah bagian-bagian dari Sapta Timira.
1. Surupa gelap karena wajah tampan atau cantik.
2. Dhana gelap karena kekayaan.
3. Guna gelap karena kepandaian.
4. Kulina gelap karena keturunan.
5. Yohana gelap karena keremajaan.
6. Sura gelap karena minuman keras.
7. Kasuran gelap karena keberanian.

Sad Atatayi Enam Cara Pembunuhan yang Terlarang



Sad Atatayi terdiri dari kata sad dan atatayi. Sad berarti enam dan atatayi berarti cara melakukan pembunuhan. Dengan demikian, sad atatayi berarti enam cara untuk melakukan pembunuhan.

Bagian-bagian Sad Atatayi meliputi :

1. Agnida
Agnida adalah cara membunuh orang dengan cara membakar. Membakar rumahnya sehingga juga membakar orangnya, seperti pencuri yang tertangkap kemudian di bakar hidup-hidup, orang yang ada dalam rumahnya mati terpanggang. Para teroris yang melakukan pengeboman termasuk dalam kelompok Agnida. Contoh cerita tentang Agnida yang patut direnungkan untuk diambil hikmahnya dapat ditemukan dalam kisah Mahabharata, yang kisah singkatnya sebagai berikut: “Pada suatu ketika, Duryadana mengundang Kunti dan Panca Pandawa untuk berlibur. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryadana. Duryadana mempunyai niat jahat untuk membakar rumah yang dihuni Panca Pandawa pada malam hari. Bima diberitahu oleh Widura bahwa rumah tempat menginap ibu Kunti dan Panca Pandawa akan dibakar oleh Duryadana di malam hari. Kemudian, dibuatlah terowongan agar dapat menyelamatkan diri. Ketika malam hari, rumah tempat Dewi Kunti dan Panca Pandawa menginap dibakar. Dewi Kunti dan Panca Pandawa dapat menyelamatkan diri ke hutan melalui terowongan.”


2. Visada
Visada artinya meracuni baik sesama manusia maupun binatang sampai pingsan, maupun sampai mati. Contoh perilaku Visada dapat direnungkan dalam cerita di bawah ini. “Seorang anak mempunyai kegemaran memancing ikan di sungai atau di kolam. Kadang-kadang ia mendapatkan banyak ikan, namun kadang-kadang mendapatkan sedikit ikan, hasilnya tidak menentu. Pada suatu hari, ia dating ke sungai untuk memancing tetapi hingga siang hari ia tidak mendapatkan seekor ikan pun. Dengan gelisah, cemas, dan penuh harapan ia pergi ke sebuah warung membeli portas dan racun lainnya. Kembalilah ia ke sungai untuk melepaskan racun tadi supaya ikan-ikan besar, belut, kepiting, udang, lele baik besar maupun kecil mati dan hanyut semua. Kemudian, setelah ikan-ikan itu mati ia hanya mengambil beberapa ekor ikan yang besar saja sedangkan yang lainnya dibiarkan hanyut. ”Perbuatan ini tidak berdasarkan Tat Twam Asi. Perbuatan ini termasuk pembunuhan secara kejam dengan jalan meracuni, yang dilarang oleh ajaran agama maupun pemerintah.

3. Atharva
Atharva adalah cara membunuh dengan kejam dengan mempergunakan ilmu hitam. Secara antropologi, fenomena ini ternyata ada di seluruh masyarakat dunia baik yang tergolong sudah mempunyai peradaban maju maupun yang masih tergolong primitif. Bahkan di era modern ini sebagian orang masih mempercayai ilmu hitam, misalnya santet, teluh.

4. Sastraghna
Sastraghna adalah membunuh dengan cara membabi buta atau mengamuk. Contoh tentang hal ini misalnya pembunuhan begal / pencuri yang dihakimi oleh massa secara membabi buta karena kemarahan mereka.

5. Dratikrama
Dratikrama adalah membunuh dengan cara melakukan perbuatan memperkosa, sehingga menghancurkan masa depan seseorang. Selain itu, Dratikrama juga dapat merusak tatanan nilai yang hidup di masyarakat. Contoh perilaku Dratikrama: Orang tua yang ingin bersetubuh dengan anak remaja dan karena menolak akhirnya diperkosa/dipaksa. Setelah diproses ke meja hijau, ia pun dihukum dan membawa aib bagi keluarga.

6. Raja Pisuna
Raja Pisuna adalah membunuh dengan cara melakukan fitnah.Perbuatan memfitnah ini sesungguhnya lebih kejam dari melakukan pembunuhan. Mereka yang melakukan fitnah sampai menyebabkan orang lain meninggal dunia.

Back To Top